Selasa, 30 Juni 2015

Meniti Karir Dari Rumah

Ramadhan tahun ini terasa begitu berkesan, balitaku dan kakaknya yang baru lulus Taman Kanak-kanak sedang belajar berpuasa. Kami banyak menghabiskan waktu bersama di rumah, bermain, belajar, sholat berjamaah hingga tadarus bersama. Rasanya lebih tenang.

Bahkan saat libur kerja, suami memilih berkumpul bersama Fayruz dan Fadhil, kedua anak kami di kamar depan rumah kami. Ruangan yang selalu menjadi pilihan khususnya di siang yang terik. Maklum hanya di ruangan itu yang dilengkapi pendingin ruangan (AC). Ada saja yang mereka kerjakan bersama sang ayah.

Awalnya terdengar suara lantang anak-anak sedang membacakan surat pendek Al Qur’an juz 30. Rupanya anak-anak sedang menyetorkan hafalannya. Sesekali terdengar suara gelak tawa mereka, sebelum kemudian hening. Diam-diam saya mengintip ke dalam ruangan bersuhu 21 derajat celsius, tempat di mana mereka berada. Aha... ketiganya tertidur, mungkin karena kelelahan setelah bermain.


Kini saatnya ke dapur, tempat terpenting di dalam rumah kami. Di sanalah saya mengolah sayur dan lauk menjadi santapan berbuka yang nikmat dan bergizi. Kalau sudah begini, kenapa lagi harus jajan di luar? Jadi bisa lebih hemat, kan? Terus sisa uang belaja bisa dikumpulkan untuk beli rumah baru hehehe...

Memang sih, keluarga kecil saya masih menumpang tinggal bersama di rumah ibu. Setidaknya saya tak perlu repot membayar sewa kontrakan rumah, seperti teman-teman lainya yang belum memiliki rumah sendiri. Meski begitu, bukan berarti saya tak punya rumah. Setelah menikah, suami membeli sebuah rumah sederhana di kompleks perumahan di kota Samarinda melalui kredit bank.

Namun ibu berkeras agar saya tetap tinggal bersama ibu, apalagi setelah adik bungsu saya meninggal dunia di usia muda karena kanker otak. Akhirnya rumah pertama kami pun di kontrakkan. Sedangkan kakak perempuan saya memilih tinggal bersama suaminya di rumah mereka di Madiun. Hanya beberapa tahun sekali mereka bisa mengunjungi ibu.

Untungnya suami saya tak menolak saat saya memintanya untuk tinggal bersama di rumah ibu. Saya bahagia masih berkesempatan merawat ibu di usia tuanya. Di rumah yang terbuat dari kayu hutan tropis Kalimantan ini kami mengisi Ramadhan dengan penuh suka cita.

Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya yang berdekatan dengan dapur. Anak-anak sering kali menemani sang nenek di kamar sambil mengangkut semua mainan. Kalau sudah begini, saya jadi lebih leluasa menulis, salah satu hobi yang saya tekuni. Berada di depan laptop barjam-jam menjadi hal yang begitu menyenangkan. Tu, kan, jadi tambah malas ke luar rumah.

Satu lagi yang saya lakukan untuk mengisi kegiatan Ramadhan di rumah, yaitu mengajar les membaca untuk anak usia sekolah dasar yang belum bisa membaca dengan lancar. Banyak juga anak-anak lulusan TK yang akan masuk SD yang ikut belajar di rumah saya. Dengan jadwal belajar seminggu hanya dua kali, dan lama belajar hanya satu jam saja di setiap pertemuannya. Kedua anak saya pun bisa membaca karena ikut les membaca di rumah.

Anak-anak yang belajar membaca di rumah

Anak-anak yang menjadi murid saya dengan setia menunggu saya di teras depan. Setelah semua berkumpul, saya mengajak mereka ke ruang kecil di lantai dua rumah kami, tepatnya di dekat tempat jemuran. Bekerja dari rumah sungguh menyenangkan, tak perlu repot keluar rumah untuk ngantor. Oiya, satu lagi, pernah suatu hari saat pelajaran berjalan tiba-tiba terdengar rintik hujan. Saya masih bisa mengangkat jemuran pakaian di saat sedang mengajar. Ya, tentu saya harus minta izin mereka dulu lah. Hehehe... jadi ingin senyum kalau ingat pengalaman ini.

Bagi saya, rumah tidak hanya menjadi tempat bernaung semata, tetapi juga tempat beribadah dan berbagi ilmu dengan sesama. Saya merekan semua kegiatan di rumah dan menuangkannya menjadi tulisan, kemudian mengirimkannya ke media. Satu lagi pengalaman berkesan selama Ramadhan tahun ini adalah saya berhasil memenangkan kuis menulis dan lomba berbagi resep masakan yang diselenggarakan produk tertentu melalui facebook dan twitter.

Menulis dari rumah

Meski berada di rumah, kita masih bisa berkarya, lo. Dari rumah yang sederhana sekalipun, kita bisa melakukan banyak hal bermanfaat. Tidak hanya bermanfaat bagi sesama anggota keluarga saja, tetapi juga bagi orang lain di luar rumah, nun jauh di sana. Rasanya tak berlebihan bila saya meminjam istilah Baiti jannati, bagiku rumahku adalah surgaku.

Di rumah saya mengabdikan diri sebagai anak untuk merawat ibu tercinta, sebagai istri untuk suami tersayang, dan sebagai ibu untuk anak-anak terkasih. Dan dari rumah saya terus berkarya melalui tulisan, berbagi pengetahuan untuk anak-anak Indonesia.
Dan di rumah lah, saya meniti semua karir mulia itu. []

Tulisan ini diikutserkan dalam Lomba Blog 'Ramadhan di Rumah'


Tidak ada komentar:

Posting Komentar