Kamis, 04 April 2013

Cerita di Balik Noda



Judul buku        : Cerita di Balik Noda: 42 Kisah Inspirasi Jiwa
Penulis             : Fira Basuki
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : I, Januari 2013
ISBN                : 978-979-91-0525-7
Tebal buku       : xii + 234 halaman
Harga              : Rp40.000,-


Buku Cerita di Balik Noda adalah buku antologi yang dikemas apik, terdiri dari 38 kisah nyata yang diambil dari peserta lomba menulis bertema ‘Cerita di Balik Noda’ yang diadakan oleh Rinso Indonesia melalui Facebook, dan ditulis ulang oleh novelis Indonesia terkemuka, Fira Basuki. Perempuan yang lahir di Surabaya, 7 Juni 1972 ini juga menyumbang empat cerita berjudul ‘Bos Galak’, ‘Sarung Ayah’, ‘Pohon Kenangan’, dan ‘Foto’, melengkapi buku ini menjadi
42 kisah inspirasi jiwa.

Awalnya saya merasa tegang saat membaca cerita Fira Basuki berjudul Bos Galak (hal.1). Ia mengisahkan tentang Bu Elsi, bos yang galak dan suka bekerja keras. Rani, karyawan baru di perusahaan jasa periklanan internasional berhasil mengembalikan senyum Bu Elsi, bosnya, melalui sebuah pesta kejutan ulang tahun. Rani memegang Rainbow cake dengan 10 batang lilin, bersama teman-teman sekantornya ia menyanyikan lagu happy birtday menyambut kedatangan Bu Elsi pagi itu. Meski Bu Elsi kaget, dan menanggapi dengan pertanyaan bernada tinggi, akhirnya hati sang bos tersentuh juga saat menghitung jumlah lilin pada kue yang disiapkan oleh Rani.

Terjawablah sudah mengapa Bu Elsi sangat galak, rupanya kehilangan Dino anak satu-satunya yang wafat pada usia 10 tahun karena kanker, meninggalkan duka yang dalam. Bima, salah satu karyawan yang juga teman kerja Rani bertepuk tangan paling keras saat menyaksikan Bu Elsi meniup lilin. Tanpa sengaja ia menyenggol tangan Rani  hingga kue yang dipegangnya jatuh ke baju Bu Elsi. Mereka siap menerima teriakan Bu Elsi.

Tapi Bu Elsi malah tertawa dan mengambil serpihan kue dari bajunya dengan jari-jarinya dan menjilatinya. Hal itu mengingatkan Bu Elsi pada Dino yang selalu menumpahinya dengan makanan, bahkan kue ulang tahunnya sendiri. Dari sinilah terungkap mengapa Bu Elsi selalu membawa kue bolu di saat ulang tahunnya. Ternyata kue bolu adalah kue kesukaan Dino.

Lain lagi ketika membaca kisah berjudul Kucing dan Rezeki (hal. 151) yang ditulis ulang dari cerita karya Aisyah Fad, membuat saya merinding. Pengalaman pertama Azka dan ibunya yang menemukan kucing mati terlindas mobil. Kondisinya yang mengenaskan membuat Azka sedih, hingga meminta ibunya kembali ke jalan dimana jasad kucing tersebut berada, dan menguburkannya di tanah lapang di samping rumah mereka.

Sejak saat itu, pintu portal dunia gaib kucing seakan terbuka bagi keluarga Azka. Suatu pagi seekor kucing berada di depan rumah Azka, ia muntah dan kejang, hingga akhirnya mati. Azka dan ibunya kembali menguburkan kucing kedua tepat di samping kuburan kucing yang pertama kali mereka temukan.

Dalam sebulan ada lima kucing datang ke rumah Azka, dan kelimanya mati, kemudian dikuburkan berjejeran. Hal itu menjadi bahan gunjingan tetangga dan juga olokan teman-teman Azka.

“Manusia yang membantu para kucing rezekinya akan dibantu oleh para arwah kucing agar lancar”, demikian kata Papa Azka. Entah bagaimana candaan Papa menjadi menjadi kenyataan, lambat laun butik ibu Azka kebanjiran pembeli. Tentunya hal itu karena totalitas kerja keras ibu Azka. Tanah kosong di sebelah rumah mereka, yang menjdi kuburan para kucing itu dibeli keluarga Azka. Bangunan butik menjadi indah dan luas, tapi kuburan kucing tetap dibiarkan di sana.

Suatu sore saat hujan deras, ibu Azka kembali didatangi tamu aneh pada jam-jam tertentu. Saat pintu dibuka, ada dua ekor kucing hitam dengan bulu-bulu basah karena kehujanan, sang ibu pun memanggil kedua putrinya, Azka dan Shafa untuk merawat kedua kucing tersebut. Mereka memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Kedua kucing itu selalu dilumuri minyak kayu putih agar hangat. Ibu pun sangat mencitai empat mahluk yang selalu tidur bersama di atas tempat tidur, yaitu dua anak perempuan dan dua ekor kucing.

Pengalaman Fransisca Asri Budi Purnomo yang ditulis ulang oleh Fira Basuki dengan judul ‘Master Piece’ (hal. 157) seakan menjadi pelajaran berharga buat saya. Menyadarkan saya bahwa sebagai ibu, kita seharusnya bisa mengenali dan mengarahkan bakat anak yang suka mencoret-coret.

Fira Basuki menuturkan tentang Aninda yang sejak kecil kecil memegang krayon dan mulai mencoret-coret. Ibunya membiarkan saja, karena hal itu baik untuk mengasah motorik halusnya. Aninda kecil lebih tertarik mencoret selimut, seprai, sofa, tembok, hingga bajunya sendiri. Ketika sekolah di Play Group, atas saran gurunya Aninda mulai diikutkan lomba menggambar. Meski belum meraih prestasi, sang ibu terus saja menyemangati Aninda. Baru pada tahun 2010, saat usianya 6 tahun, Aninda berhasil mendapat piala pertama sebagai Juara II lomba menggambar.

Sejak saat itu, ibu rajin membelikan Aninda buku-buku cara menggambar dan melukis. Aninda juga diajak pergi ke galeri lukis, bertemu pelukis, dan belajar pada pelukis senior. Aninda pun dengan mantap menjawab, “Ingin jadi pelukis terkenal.” Saat gurunya menanyakan cita-cita Aninda. Lambat laun lemari kaca yang digunakan untuk menyimpan piala-piala prestasi Aninda mulai penuh. Lebih dari 15 piala telah diraih dari berbagai lomba, baik tingkat setempat, kecamatan hingga nasional.

Dan yang tak kalah menarik adalah cerita berjudul ‘Baju Kreatif’ (hal. 179) yang ditulis ulang dari karya Mieke Fatimah. Menurut saya ini adalah cerita kreatif. Salsa yang baru duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar mampu menginspirasi ibunya untuk bijak mengelola sampah. Caranya dengan mengumpulkan botol-botol plastik, bekas pembungkus pelembut pakaian, dan beberapa bahan plastik lainnya pada satu tempat. Sedangkan sisa makanan dikumpulkan di bagian lain. Atas saran Salsa, ibu pun menyediakan tempat sampah khusus untuk organik dan anorganik.

Kegiatan mengumpulkan sampah untuk recycle mengusik sang ibu untuk bertindak kreatif, menyulap sampah agar dapat digunakan kembali atau reuse. Ibu mulai mendesain baju, dan aksesoris dari plastik bekas pembungkus deterjen, pembungkus pelembut baju, dan plastik bekas penyedap serta deterjet sachet disulap menjadi baju atasan model tank top tanpa lengan, selendang, aksesoris, tas, dompet, dan juga rok. Sedangkan botol bekas susu beserta plastik label merk susunya dijadikan bando.

Salsa menjadi model produk-produk reuse, foto-fotonya saat menggunakan pakaian dan aksesoris daur ulang tersebut dipromosikan di sosial media. Ibu dan Salsa mengembangkan kegiatan mengolah bekas sampah ini sebagai bisnis. Mereka mengambangkan menyulap garasi rumah menjadi toko kecil bernama Go Green Salsa, dan mengajak para ibu dan anak-anak di lingkungan perumahan tempat tinggal mereka untuk bersama-sama mengembangkan bisnis ini.

Dan masih banyak lagi cerita-cerita seru lainnya yang menambah wawasan dan pengalaman tersendiri bagi pembacanya. Para kontributor yang beruntung lainnya karena ceritanya ditulis kembali oleh Fira Basuki, adalah Bunda Haifa (Hidup Baru Danu), Naniek Surasmiharsih (Di Antara Sampah), Tria Imoet (Dua Malaikat), Johan Sebastian Putra (Celengan), Nancy Bintang Kecil (Tulisan di Kain Sprei), Tri Sulastri (Nasi Bungkus Cinta), Lhysha Raesy (Seribu Cinta), Intan Suci Karlina (Untuk Papa), Anita Sosialita (Perban Nenek), Lubna Alaydrus (Siluman Tikus), Mila Purwanti (Untuk Bu Guru), Arifah Wulansari (Kado Ulang Tahun), Revi Okta Pratiwi (Tak Jadi), Yani Aulia (Like Father Like Son), Suse Herleni (Rayhan’s Pet Society), Ummi Fadlilah (Koki Cilik), Uin’s Mom (100 Hari Menanti), Sati Gulo (Baju Boneka).

Musyarofah (Batik Kreasi Ivan), Yesa Tzalasa (Boneka Beruang Zidan), N Puspa Surasmiharsih D (Harta Sebenarnya), Vincensia Naibaho (Imlek buat Lela), Maharani Fitriyanti Sah (Kaki (Harus) Kotor), Rafika Lubis  (Penangkap Ikan Cupang), Zoky Abadi (Surat untuk Bunda), Lies Rose (Agi Tidak Pelit), Ivan Roesly Winata (Demi Sekantong Beras), Mega Rini Kristanto (Di Balik Musibah), Rio Ildorio (Garuda di Dada Kiriku), Amy Sri Sulami Ahmad (Lipstik Bunda), Andrianti Puspita (Mobil-mobilan Si Panjul), Larassita Pratama (Sebelum Menyesal), Raudah AH (Sepatu Si Kembar), Donny Abidin (Si Kaya dan Si Miskin), Susiana Djati (Teman Sejati).

Melalui sentuhan Fira Basuki yang telah menerbitakan puluhan buku best seller, cerita –cerita para kontributor dikembangkan dengan tetap mempertahankan gaya tulisan aslinya. Bertutur lugas sederhana, dengan bahasa mengalir yang mudah dipahami. Melalui buku ini, Fira Basuki berhasil membuka pemahaman para ibu termasuk saya untuk mengerti bahwa selalu ada hikmah di dalam sepercik ‘noda’.

Serunya lagi, buku ini dapat dibaca secara acak. Sangat cocok bagi para ibu, dibaca kapan pun, dan di manapun berada. Buku ini memberikan semangat dan motivasi untuk terus mengasah kecerdasan anak-anak saya tercinta yang sedang dalam masa penting pertumbuhannya. Seakan menyadarkan saya agar tidak membatasi ruang gerak anak dalam mengekplorasi lingkungannya, untuk memaksimalkan pertumbuhan. Jadi, yuk, segera baca dan miliki Buku Cerita Di Balik Noda. [] Dwi Rahmawati

1 komentar: