Rabu, 22 April 2015

#BeraniLebih Menciptakan Usaha

Berhenti bekerja saat karir mulai menanjak adalah keputusan sulit. Namun terus bekerja juga dilema. Perasaan itu dulu menghantuiku. Ibu, satu-satunya yang membantuku mengurus anak mendadak sakit. Dokter menyarankan agar ibu tidak mengangkat beban berat, termasuk menggendong bayi.

Bagaimana aku membantu suami mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecil kami, ibu sekaligus ibu mertua yang berstatus janda? Belum lagi cicilan rumah yang baru kami ajukan beberapa tahun.

Aku pun berhenti bekerja. Suami mendukung keputusanku. Toh, dia juga masih bekerja. Rezeki memang tak pernah tertukar.
Aku dan suami justru bisa melunasi angsuran rumah yang kami cicil selama 15 tahun. Dananya dari program pensiun yang kuikuti selama aktif bekerja ditambah tabungan kami. Tak berapa lama kemudian aku pun dikaruniai anak kedua.

Meski mengurusi rumah tangga, namun hasrat ingin memiliki penghasilan tambahan terus menggusikku untuk berbuat sesuatu. Aku mulai menjajal kemampuanku. Membuat bolu pandan dan es lilin dari sari buah segar untuk dijual. Bangganya saat semua itu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Pesanan melimpah, padahal aku tak memiliki keahlian memasak sebelumnya.

Sayangnya itu tak bertahan lama. Kondisi fisikku tak kuat mengerjakan semuanya. Apalagi aku tak dibantu asisten rumah tangga, semua kukerjakan sendiri. Penyakit tipes membuatku berhenti. Tapi aku, masih terus memikirkan peluang usaha lainnya.

Aku tak boleh diam, kalau tidak aku bisa tenggelam, kalimat itu mengiang di telinga. #BeraniLebih menciptakan usaha. Sampai akhirnya aku menemukan peluang, yaitu membuka kursus membaca untuk anak usia TK dan SD. Kusulap kamar kosong di lantai dua rumah kami yang sangat sederhana menjadi ruang belajar yang menyenangkan.

Kupasang sepanduk besar di teras rumahku. Malu rasanya saat tetangga membacanya kemudian tertawa cekikikan. Kuberanikan diri keliling kompleks untuk membagikan brosur ke sekolah-sekolah. Sedihnya saat mengetahui brosur yang baru saja kubagikan langsung dibuang orang tua murid. Tapi aku harus bergerak untuk menjemput rezekiku. Lagi-lagi kalimat itu menyemangatiku.

Dukungan penuh dari suami, doa ibu yang tiada putus ditambah ketekunan akhirnya membuahkan hasil. Satu per satu anak-anak tetangga berdatangan untuk belajar membaca. Aku mengajari mereka sepenuh hati. Mereka kemudian merekomendasikan tempat kursusku kepada kerabat dan sahabat lainnya. Satu kebangganku adalah saat aku berhasil mengajari anakku membaca.

Selain mengajarkan cara membaca, aku juga bisa menulis buku panduan belajar membaca yang kini dijual bebas di toko buku nasional. Aku tidak menyesali keputusanku, dan semua hal yang telah kulakukan dengan penuh kesungguhan. Meski kegagalan kerap menyapa, aku tak kan mudah takluk. Teruslah berbuat, dan bergerak, kawan! Kau pun pasti bisa.

***




Facebook; https://www.facebook.com/dwi.d.rahmawati.1
Twitter    ; @rahmawati1607









Tidak ada komentar:

Posting Komentar