Senin, 15 April 2013

Kurikulum Berbasis Inovasi, Belajar Melalui Praktek dan Melayani Beragam Tipe Kecerdasan Siswa

Pengertian kurikulum menurut UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19 adalah, seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Seiring dengan perkembangan zaman yang identik dengan perubahan, kurikulum terus diperbaharui guna
menjawab berbagai tantangan. Inovasi kurikulum harus terus disosialisasikan agar dapat diterima, meski memerlukan persiapan dan waktu yang cukup lama bagi sekolah, guru dan murid yang terlibat di dalamnya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Dunia sedang bergerak sangat cepat, diperlukan revolusi untuk mengubah cara kita hidup, berkomunikasi, berfikir dan belajar untuk mencapai kesejahteraan. Terobosan baru dalam dunia pendidikan harus dirancang dalan sistem pendidikan sekolah untuk membantu anak-anak kita mempelajari ilmu pengetahun dan teknologi informasi yang terus berkembang dan berjalan semakin cepat.

Hal ini dimaksudkan agar generasi muda saat ini yang masih berada di bangku sekolah dapat mengakses informasi dan pengetahuan dengan cepat, sehingga mereka kelak dapat mengendalikan masa depan.

Kurikulum lama harus ditataulang dengan lebih banyak melibatkan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar, serta memperbanyak kegiatan praktek langsung dengan memafaatkan sumber daya alam yang ada. Belajar akan menjadi efektif bila dilakukan dalam suasana menyenangkan. Menghubungkan pelajaran dengan kegiatan praktek langsung di lapangan, melalui kegiatan pengamatan yang dilakukan siswa adalah hal yang sangat menyenangakan.

Pelajaran menjadi efektif bila menggabungkan teori dan praktek. Dengan melakukan praktek dan pengamatan langsung terhadap objek akan melibatkan seluruh panca indera siswa. Para siswa akan belajar melalui apa yang mereka lihat, dengar, kecap, sentuh, baui, dan melalui apa-apa yang mereka lakukan. Kegiatan praktek pelajaran mampu mengantarkan pemahaman siswa terhadap pelajaran jauh lebih cepat.

Setiap anak terlahir jenius. Informasi yang kompleks sekalipun dapat diserap dan diingat dengan mudah jika para siswa di sekolah terlibat dalam proses pembelajaran, namun setiap anak juga memiliki tipe kecerdasan, gaya belajar dan gaya berfikir yang berbeda. Sekolah melalui kurikulum dan metode belajar terpadu yang efektif seharusnya dapat mengenali dan melayani anak-anak tersebut.

Selama ini sekolah hanya menghargai dua tipe kecerdasan, yaitu kecerdasan lingusitik meliputi kemampuan membaca dan menulis, serta kecerdasan logika matematika meliputi kemampuan untuk menalar dan berhitung. Sedangkan para siswa yang mungkin memiliki kecerdasan lainnya yang lebih dominan, di antaranya kecerdasan musikal, kecerdasan spasial dan visual, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal dan intrapersonal menjadi tidak terperhatikan.

Belum lagi gaya belajar setiap siswa yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya, ada yang kinestetik, visual dan auditori. Kebanyakan siswa sekolah dasar dan menengah pertama paling baik belajar ketika mereka terlibat langsung dan bergerak atau kinestetik, sedangkan orang dewasa lebih suka belajar secara visual atau belajar melalui gambar dan tulisan.

Kurikulum berbasis inovasi seyogyanya mampu menyajikan proses belajar dengan melibatkan semua potensi yang ada. Guru memiliki peran penting untuk mengembangkan potensi siswa yang ada. Keahlian lain yang harus dimiliki seorang guru adalah dapat memetakan kemampuan siswanya, mengetahui apa yang telah mereka pahami dan apa yang belum mereka ketahui. Kemudian melaksanakan kegiatan belajar yang menyenangkan untuk menambah wawasan siswa tentang hal-hal yang belum mereka pahami.

Pentingnya bagi guru melakukan tahapan pengajaran yang runtun. Mulai dari apperssepsi dengan menanyakan kembali pelajaran yang diberikan pada pertemuan terdahulu. Kemudian guru menanamkan konsep baru, yaitu pelajaran selanjutnya dan memastikan siswa memahaminya. Baru kemudian melakukan latihan dan penilaian atau evaluasi agar guru mampu mengukur pemahaman siswa terhadap pelajaran dengan akurat, sehingga proses pembelajaran menjadi efektif.

Sebelum memulai pelajaran hendaknya guru mampu memberikan gambaran menyeluruh terlebih dahulu tentang pelajaran yang akan disampaikan. Sehingga siswa akan mengerti apa yang sedang mereka pelajari. Hal penting lainnya yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma sekolah yang mendasarkan prisnsip bahwa satu pertanyaan mempunyai satu jawaban yang benar.

Berbagai terobosan dalam kehidupan justru akan muncul dari jawaban yang benar-benar baru yang lahir dari penentangan dan bukan dari penerimaannya. Pelajaran tentang cara berfikir harusnya menjadi prioritas tertinggi di setiap sekolah. Apabila siswa mengira hanya ada satu jawaban yang benar, maka siswa akan berhenti mencari ketika menemukannya. Padahal ada banyak jawaban yang benar dalam kehidupan, bukan hanya soal-soal matematis yang punya satu jawaban yang benar.

Pendidikan di sekolah merupakan ikatan emosional antara guru dan siswa yang terjalin begitu erat, sehingga setiap guru seyogyanya bisa memberikan teladan dengan lebih banyak memberikan contoh nyata agar para siswa mampu menyerap informasi yang disampaikan. Proses transfer pendidikan hebat terjadi saat siswa merasa nyaman dengan kondisi belajarnya.

Pada kegiatan belajar mengajar berlangsung di sekolah, guru harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan peserta didiknya, baik melalui ucapan, bahkan bahasa tubuh bisa melalui kedipan mata, gerak tubuh dan ekspresi wajah. Proses komunikasi yang baik dengan siswa merupakan bagian penting untuk mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap pelajaran yang telah disampaikan.

Sesungguhnya guru bagaikan pembawa lentera yang membagikan cahaya kepada para siswanya, membekali mereka untuk menembus kegelapan di masa mendatang, di dunia yang akan berubah empat kali lebih cepat.

***
* Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Pendidikan



Telah dimuat di Tribun Kaltim, 6 April 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar